Miftahuddin Majid Khoeri, Ocky Karna Radjasa, Agus Sabdono and Herawati Sudoyo
Abstract
Coral reef is a productive ecosystem with high biodiversity in the sea and being targeted to find a useful bioactive compound. However, the serious problem in development of bioactive compounds from marine invertebrate is the supply problem, because to get a small amounts of active compounds a massive numbers of sea organisms are needed. Tunicate is an animal in coral reef ecosystem that produces many bioactive compounds with pharmacological activities, such as, antibacterial, antitumor, and anticancer compounds. It has been reported that bacterial symbionts of coral reef invertebrates may synthesize the same compounds as the host. The purposes of this research are to isolate and to identify microbes which have antibacterial activity against MDR bacteria based PCR 16S rRNA and to detect the existence of PKS and NRPS biosynthetic gene fragments from tunicate bacteria of Didemnum molle. Out of 15 bacterial isolates, one isolate showed antibacterial potential against Escherichia coli and Staphylococcus sp. Molecular identification result showed that TS2A5 bacterium has a homology of 99 % with Virgibacillus sp. strain GSP17 16S ribosomal RNA gene. This isolate was also capable of amplifying NRPS gene fragment.
Thursday, November 3, 2011
Thursday, September 15, 2011
Mengenali kadar kolesterol pada makanan
Pada dasarnya, kolesterol yang cukup tinggi terdapat pada makanan hewani. Meskipun proses pengolahannya tidak mengurangi atau menambahkan jumlah kolesterol, akan tetapi konsumsi lemak jenuh dan lemak trans dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam tubuh. Agar kita lebih waspada, berikut adalah beberapa jenis makanan dari yang aman hingga perlu kita waspadai, atau bahkan hindari.
AMAN DI KONSUMSI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Putih Telur Ayam 0
2 Susu Sapi tanpa lemak 0
3 Daging Ayam pilihan tanpa kulit 5
4 Daging Bebek pilihan tanpa kulit 5
5 Ikan Sungai Air Tawar Biasa 5.5
6 Daging Sapi pilihan tanpa lemak 6
7 Daging Kelinci 6.5
8 Daging Kambing tanpa lemak 7
9 Ikan Ekor Kuning 8.5
PERLU DI BATASI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Daging Asap (ham) 9.8
2 Iga Sapi 10
3 Daging Sapi 10.5
4 Burung Dara 11
5 Ikan Bawal 12
6 Daging Sapi dengan Lemak 12.5
PERLU BERHATI - HATI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Gajih Sapi 13
2 Gajih Kambing 13
3 Keju 14
4 Sosis Daging 15
5 Kepiting 15
6 Udang 16
7 Kerang / Siput 16
8 Belut 18.5
WAJIB DI KURANGI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Santan Kelapa 18.5
2 Susu Sapi 25
3 Susu Sapi Full Cream 28
4 Cokelat 29
5 Mentega 30
6 Jeroan Sapi 38
7 Kerang Putih, tiram, remis 45
8 Telur Ayam 50
9 Jeroan Kambing 61
WAJIB DI HINDARI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Cumi-Cumi 117
2 Kuning Telur Ayam 200
3 Otak Sapi 230
4 Telur Burung Puyuh 364
Perlu diingat, bahwa daftar tersebut hanyalah perbandingan tingkat kolesterol untuk jenis - jenis makanan, bukan mewakili seluruh nilai gizi dalam makanan-makanan tersebut.
Source :
http://menujuhijau.blogspot.com
AMAN DI KONSUMSI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Putih Telur Ayam 0
2 Susu Sapi tanpa lemak 0
3 Daging Ayam pilihan tanpa kulit 5
4 Daging Bebek pilihan tanpa kulit 5
5 Ikan Sungai Air Tawar Biasa 5.5
6 Daging Sapi pilihan tanpa lemak 6
7 Daging Kelinci 6.5
8 Daging Kambing tanpa lemak 7
9 Ikan Ekor Kuning 8.5
PERLU DI BATASI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Daging Asap (ham) 9.8
2 Iga Sapi 10
3 Daging Sapi 10.5
4 Burung Dara 11
5 Ikan Bawal 12
6 Daging Sapi dengan Lemak 12.5
PERLU BERHATI - HATI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Gajih Sapi 13
2 Gajih Kambing 13
3 Keju 14
4 Sosis Daging 15
5 Kepiting 15
6 Udang 16
7 Kerang / Siput 16
8 Belut 18.5
WAJIB DI KURANGI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Santan Kelapa 18.5
2 Susu Sapi 25
3 Susu Sapi Full Cream 28
4 Cokelat 29
5 Mentega 30
6 Jeroan Sapi 38
7 Kerang Putih, tiram, remis 45
8 Telur Ayam 50
9 Jeroan Kambing 61
WAJIB DI HINDARI
No Jenis Makanan Kolesterol / 100gr (mg)
1 Cumi-Cumi 117
2 Kuning Telur Ayam 200
3 Otak Sapi 230
4 Telur Burung Puyuh 364
Perlu diingat, bahwa daftar tersebut hanyalah perbandingan tingkat kolesterol untuk jenis - jenis makanan, bukan mewakili seluruh nilai gizi dalam makanan-makanan tersebut.
Source :
http://menujuhijau.blogspot.com
Sunday, June 26, 2011
Ada Dunia Mikroba di Sea World
Para pengunjung Sea World Indonesia kini dapat menemukan hal baru di tempat rekreasi bertemakan kehidupan laut tersebut. Mulai (18/6/2011) ini Sea World membuka wahana baru bernama Vitacharm Microworld.
Di dalam wahana baru ini, para pengunjung dapat melihat dan mengenal lebih dekat jasad renik alias mikroba. Wahana ini dibuka berkat kerja sama dengan salah satu produsen yoghurt.
"Wahana ini dibangun atas dasar kesamaan visi agar anak-anak bisa melihat langsung apa yang kini hanya bisa mereka lihat dari buku," kata Direktur Sea World Indonesia, Sonny W Widjanarko.
Microworld juga merupakan salah satu bentuk komitmen Sea World untuk edukasi. "Sea World ini sudah besar, tapi belum menyentuh hal kecil. Maka, kita ingin lakukan hal ini. Mikroba ini kecil, tapi menopang banyak dan kita kadang enggak tahu," ungkap Rika Sudranto, Assisten General Manager Sea World Indonesia.
Susianni Lie, ahli mikrobiologi dari Riset dan Inovasi Orang Tua Grup, mengatakan bahwa banyak mikroba yang berperan dalam kehidupan, tetapi tak banyak diketahui. Misalnya, kalau di laut ada minyak tumpah, ilmuwan akan memakai mikroba yang berguna menguraikan minyak.
Untuk tahap awal, ada enam jenis mikroba yang dikenalkan. Ada mikroba golongan Rotifera yang merupakan makanan bagi juvenil ikan laut, golongan Crustacea atau udang-udangan kecil yang disebut Artemia dan Paramaecium, golongan mikroba yang memiliki banyak cilia. Tiga jenis lainnya adalah mikroba probiotik, yaitu Acidophilus digestiva, Casei immunita, dan Bifido defensia. Ketiganya berperan dalam pencernaan dan ketahanan tubuh.
Untuk melihat sang mikroba, wahana dilengkapi dengan mikroskop yang terhubung dengan layar televisi. Sampel air yang mengandung mikroba telah diletakkan di mikroskop dan citra mikroba itu ditampilkan di layar televisi sehingga bisa dilihat lebih mudah."Ini live. Jadi mikrobanya masih hidup," kata Rika.
Jadi, pengunjung bisa melihat aktivitas mikroba. Untuk memberi wawasan, ada guide yang bertugas menjelaskan. Sementara itu, pengunjung termasuk anak-anak juga bisa praktik memakai mikroskop untuk melihat mikroba.
Rika menambahkan, dengan memperlihatkan mikroba, masyarakat terutama anak-anak bisa mulai mencintai dunia mikro-organisme. Selain itu, masyarakat yang selama ini menganggap bahwa semua mikroba merugikan juga mengerti bahwa ternyata ada bakteri menguntungkan.
Bersamaan dengan pembukaannya, Vitacharm Microworld juga membuat Sea World meraih rekor ke-26 Muri. Wahana terbaru ini ditetapkan sebagai wahana pertama yang menampilkan mikroba.
Rika mengatakan, pengembangan wahana dimungkinkan jika respons masyarakat baik. "Kita nanti bisa kulturkan kalau respons masyarakat baik. Lalu tentang penyakit, bakteri apa yang menyebabkan. Kemudian mikroba di laut itu apa saja," kata Rika.
Source : http://sains.kompas.com/read/2011/06/18/17053772/Ada.Dunia.Mikroba.di.Sea.World
Di dalam wahana baru ini, para pengunjung dapat melihat dan mengenal lebih dekat jasad renik alias mikroba. Wahana ini dibuka berkat kerja sama dengan salah satu produsen yoghurt.
"Wahana ini dibangun atas dasar kesamaan visi agar anak-anak bisa melihat langsung apa yang kini hanya bisa mereka lihat dari buku," kata Direktur Sea World Indonesia, Sonny W Widjanarko.
Microworld juga merupakan salah satu bentuk komitmen Sea World untuk edukasi. "Sea World ini sudah besar, tapi belum menyentuh hal kecil. Maka, kita ingin lakukan hal ini. Mikroba ini kecil, tapi menopang banyak dan kita kadang enggak tahu," ungkap Rika Sudranto, Assisten General Manager Sea World Indonesia.
Susianni Lie, ahli mikrobiologi dari Riset dan Inovasi Orang Tua Grup, mengatakan bahwa banyak mikroba yang berperan dalam kehidupan, tetapi tak banyak diketahui. Misalnya, kalau di laut ada minyak tumpah, ilmuwan akan memakai mikroba yang berguna menguraikan minyak.
Untuk tahap awal, ada enam jenis mikroba yang dikenalkan. Ada mikroba golongan Rotifera yang merupakan makanan bagi juvenil ikan laut, golongan Crustacea atau udang-udangan kecil yang disebut Artemia dan Paramaecium, golongan mikroba yang memiliki banyak cilia. Tiga jenis lainnya adalah mikroba probiotik, yaitu Acidophilus digestiva, Casei immunita, dan Bifido defensia. Ketiganya berperan dalam pencernaan dan ketahanan tubuh.
Untuk melihat sang mikroba, wahana dilengkapi dengan mikroskop yang terhubung dengan layar televisi. Sampel air yang mengandung mikroba telah diletakkan di mikroskop dan citra mikroba itu ditampilkan di layar televisi sehingga bisa dilihat lebih mudah."Ini live. Jadi mikrobanya masih hidup," kata Rika.
Jadi, pengunjung bisa melihat aktivitas mikroba. Untuk memberi wawasan, ada guide yang bertugas menjelaskan. Sementara itu, pengunjung termasuk anak-anak juga bisa praktik memakai mikroskop untuk melihat mikroba.
Rika menambahkan, dengan memperlihatkan mikroba, masyarakat terutama anak-anak bisa mulai mencintai dunia mikro-organisme. Selain itu, masyarakat yang selama ini menganggap bahwa semua mikroba merugikan juga mengerti bahwa ternyata ada bakteri menguntungkan.
Bersamaan dengan pembukaannya, Vitacharm Microworld juga membuat Sea World meraih rekor ke-26 Muri. Wahana terbaru ini ditetapkan sebagai wahana pertama yang menampilkan mikroba.
Rika mengatakan, pengembangan wahana dimungkinkan jika respons masyarakat baik. "Kita nanti bisa kulturkan kalau respons masyarakat baik. Lalu tentang penyakit, bakteri apa yang menyebabkan. Kemudian mikroba di laut itu apa saja," kata Rika.
Source : http://sains.kompas.com/read/2011/06/18/17053772/Ada.Dunia.Mikroba.di.Sea.World
Thursday, April 21, 2011
Manfaat Buah Apel Bagi Wanita
Memakan satu buah apel sehari dipercaya dapat membuat seseorang terbebas dari penyakit. Tapi lebih dari itu, apel ternyata juga memiliki banyak manfaat, terutama bagi para wanita. Ini di antaranya.
Prof. Bahram H. Arjmandi, seperti Fox News, mengatakan bahwa wanita yang mengonsumsi apel satu buah sehari dalam enam bulan akan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh sebanyak 23 persen. Sebaliknya kadar kolesterol baik (HDL) dalam tubuhnya akan meningkat sebanyak 4 persen.
Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 160 wanita berumur 45-65 tahun menemukan, para wanita yang mengonsumsi lebih sedikit apel memiliki kandungan lipid hydroperoxide, lemak yang dapat merusak sel-sel dalam tubuh serta protein C-reaktif, yang dapat menyebabkan peradangan di dalam tubuh.
Yang paling menyenangkan bagi wanita, apel dapat membuat mereka kehilangan rasa lapar karena mengandung 240 kalori per buah. Namun mengonsumsi apel tak akan membuat berat badan mereka bertambah, sehingga lekuk tubuh pun tetap terjaga.
Source : berita.yahoo.com
Prof. Bahram H. Arjmandi, seperti Fox News, mengatakan bahwa wanita yang mengonsumsi apel satu buah sehari dalam enam bulan akan menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam tubuh sebanyak 23 persen. Sebaliknya kadar kolesterol baik (HDL) dalam tubuhnya akan meningkat sebanyak 4 persen.
Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 160 wanita berumur 45-65 tahun menemukan, para wanita yang mengonsumsi lebih sedikit apel memiliki kandungan lipid hydroperoxide, lemak yang dapat merusak sel-sel dalam tubuh serta protein C-reaktif, yang dapat menyebabkan peradangan di dalam tubuh.
Yang paling menyenangkan bagi wanita, apel dapat membuat mereka kehilangan rasa lapar karena mengandung 240 kalori per buah. Namun mengonsumsi apel tak akan membuat berat badan mereka bertambah, sehingga lekuk tubuh pun tetap terjaga.
Source : berita.yahoo.com
Wednesday, April 20, 2011
Penyakit Misterius Menyerang Terumbu Karang
Penyakit Misterius Menyerang Terumbu Karang – Semarang: Pakar ilmu kelautan Universitas Diponegoro Semarang, Profesor Agus Sabdono, mengatakan, kerusakan terumbu karang di perairan Karimunjawa disebabkan suatu penyakit misterius.
“Terumbu karang yang terserang penyakit itu akan berubah warna menjadi merah muda dan dalam waktu antara 2-3 bulan akan mati. Ini yang tengah kami teliti saat ini,” katanya di Semarang, Senin (11/4).
Agus yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip itu menjelaskan terumbu karang yang terkena gejala menyerupai itu sebenarnya pernah ditemukan di perairan India.
Ia mengatakan, gejalanya hampir sama yakni terumbu karang berubah warna menjadi merah muda. Namun, di India polanya hanya garis-garis di terumbu karang, sedangkan di perairan Karimunjawa menyeluruh.
“Luasan terumbu karang yang terkena penyakit itu sudah cukup besar. Saya tidak ingat persis angkanya, namun terumbu karang berpenyakit itu banyak ditemukan di sebelah Utara Pulau Sambangan, Pulau Karimunjawa,” katanya.
Selain penyakit itu, pihaknya juga menemukan berbagai penyakit lain yang menyerang terumbu karang seperti white plaque tipe I, tipe II, tipe III, dan black bone disease.
Ia mengemukakan, penyakit yang menjangkiti itu juga bisa membuat terumbu karang berubah warna seperti white plaque membuat warna berubah putih atau black bone disease membuat terumbu karang menghitam.
“Kalau penyakit-penyakit ini biasa ditemukan di terumbu karang, namun untuk yang membuat warna terumbu karang berubah merah muda itu belum pernah ditemukan. Namun, penyebabnya karena bakteri,” katanya.
Ia menjelaskan, penyebab berbagai penyakit yang menyerang terumbu karang itu karena bakteri, diperparah dengan tekanan alam, termasuk pencemaran yang semakin memperlemah sistem pertahanan diri terumbu karang.
“Serangan bakteri ini terjadi mulai level molekuler, sel, hingga ke jaringan terumbu karang sehingga dalam waktu cepat akan membuat terumbu karang mati,” katanya.
Penyakit yang menyerang terumbu karang itu, tentunya merugikan, karena terumbu karang memiliki berbagai fungsi seperti obat-obatan, bahan budi daya, dan pencegah abrasi pantai.
“Untuk hewan-hewan laut lainnya, terumbu karang juga menjadi sumber makanan dan tempat hidup seperti udang-udangan, kerang-kerangan, oktopus, dan rumput laut,” katanya.
Pihaknya sedang meneliti langkah untuk membasmi penyakit tersebut dan mengembalikan kondisi serta fungsi terumbu karang secara baik seperti sedia kala.
“Terumbu karang yang terserang penyakit itu akan berubah warna menjadi merah muda dan dalam waktu antara 2-3 bulan akan mati. Ini yang tengah kami teliti saat ini,” katanya di Semarang, Senin (11/4).
Agus yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip itu menjelaskan terumbu karang yang terkena gejala menyerupai itu sebenarnya pernah ditemukan di perairan India.
Ia mengatakan, gejalanya hampir sama yakni terumbu karang berubah warna menjadi merah muda. Namun, di India polanya hanya garis-garis di terumbu karang, sedangkan di perairan Karimunjawa menyeluruh.
“Luasan terumbu karang yang terkena penyakit itu sudah cukup besar. Saya tidak ingat persis angkanya, namun terumbu karang berpenyakit itu banyak ditemukan di sebelah Utara Pulau Sambangan, Pulau Karimunjawa,” katanya.
Selain penyakit itu, pihaknya juga menemukan berbagai penyakit lain yang menyerang terumbu karang seperti white plaque tipe I, tipe II, tipe III, dan black bone disease.
Ia mengemukakan, penyakit yang menjangkiti itu juga bisa membuat terumbu karang berubah warna seperti white plaque membuat warna berubah putih atau black bone disease membuat terumbu karang menghitam.
“Kalau penyakit-penyakit ini biasa ditemukan di terumbu karang, namun untuk yang membuat warna terumbu karang berubah merah muda itu belum pernah ditemukan. Namun, penyebabnya karena bakteri,” katanya.
Ia menjelaskan, penyebab berbagai penyakit yang menyerang terumbu karang itu karena bakteri, diperparah dengan tekanan alam, termasuk pencemaran yang semakin memperlemah sistem pertahanan diri terumbu karang.
“Serangan bakteri ini terjadi mulai level molekuler, sel, hingga ke jaringan terumbu karang sehingga dalam waktu cepat akan membuat terumbu karang mati,” katanya.
Penyakit yang menyerang terumbu karang itu, tentunya merugikan, karena terumbu karang memiliki berbagai fungsi seperti obat-obatan, bahan budi daya, dan pencegah abrasi pantai.
“Untuk hewan-hewan laut lainnya, terumbu karang juga menjadi sumber makanan dan tempat hidup seperti udang-udangan, kerang-kerangan, oktopus, dan rumput laut,” katanya.
Pihaknya sedang meneliti langkah untuk membasmi penyakit tersebut dan mengembalikan kondisi serta fungsi terumbu karang secara baik seperti sedia kala.
Labels:
bakteri,
karimunjawa,
penyakit karang,
prof agus sabdono
Wednesday, March 30, 2011
Pasien Malaria Stop Gunakan Obat Cloroquin
Metrotvnews.com, Timika: Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kementerian Kesehatan, Dr Rita Kusriastuti MSc, mengemukakan obat cloroquin sudah resisten untuk mengobati penyakit malaria sehingga tidak boleh lagi dipakai.
"Kita harus stop berikan cloroquin kepada pasien yang terserang penyakit malaria," kata Rita kepada ANTARA di Timika, Rabu (30/3).
Ia mengemukakan hal itu di sela-sela kegiatan seminar dan lokakarya Rencana Strategi Penanggulangan Malaria di Kabupaten Mimika tahun 2011-2026 kerja sama Dinas Kesehatan Mimika, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), dan PT Freeport Indonesia bertempat di Timika.
Rita mengemukakan, saat ini terdapat jenis obat baru yang digunakan untuk mengobati penyakit malaria yaitu Dehidro Artemisinin Pepraquin (DHP).
Stok obat DHP di Indonesia saat ini dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan baik untuk permintaan rumah sakit pemerintah maupun swasta.
"Kita sudah menghitung kebutuhan obat ini se-Indonesia dan pemerintah menjamin persediaannya sangat cukup," jelas Rita.
Ia mengaku prihatin dengan kondisi di Papua terutama di Timika dimana sekitar 60 persen pasien malaria pergi berobat ke klinik swasta yang tidak menyediakan obat DHP.
Menurut Rita, ke depan klinik dan rumah sakit swasta bisa memperoleh dan menggunakan obat DHP untuk pengobatan pasien malaria mengingat obat tersebut gratis.
Pungutan kepada pasien hanya diberlakukan untuk pemeriksaan laboratorium dan jasa dokter, sementara untuk obat tidak boleh dipungut bayaran karena mendapat subsidi dari pemerintah.
Rita menambahkan, Kemenkes akan mendiskusikan dengan jajaran terkait lainnya tentang usulan Kabupaten Mimika agar obat DHP bisa disediakan di beberapa apotek.
Sejauh ini pendistribusian obat DHP belum dilakukan ke klinik swasta maupun apotek karena dikhawatirkan obat ini juga akan mengalami resistensi terhadap penyakit malaria akibat penggunaan yang tidak dikontrol.
"Kalau tanpa resep dokter akan sangat berbahaya. Kita semua harus menjaga agar tidak terjadi resistensi pada obat ini," tutur Rita.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Erens Meokbun mengatakan stok obat DHP di Mimika saat ini dalam jumlah yang cukup.
Penggunaan obat DHP di Mimika untuk pengobatan penyakit malaria dilakukan sejak tahun 2006 dan hingga saat ini masih terbatas di RS pemerintah, beberapa Puskesmas, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) milik LPMAK, RS AEA Tembagapura, Public Health and Malaria Control (PHMC) PT Freeport dan sejumlah klinik Malcon.
"Kita komitmen untuk menggunakan obat DHP. Kita mendapat bantuan dari pusat melalui provinsi, juga ada alokasi anggaran dalam APBD Mimika tahun 2011 untuk pengadaan obat tersebut," jelasnya.(Ant/*)
"Kita harus stop berikan cloroquin kepada pasien yang terserang penyakit malaria," kata Rita kepada ANTARA di Timika, Rabu (30/3).
Ia mengemukakan hal itu di sela-sela kegiatan seminar dan lokakarya Rencana Strategi Penanggulangan Malaria di Kabupaten Mimika tahun 2011-2026 kerja sama Dinas Kesehatan Mimika, Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), dan PT Freeport Indonesia bertempat di Timika.
Rita mengemukakan, saat ini terdapat jenis obat baru yang digunakan untuk mengobati penyakit malaria yaitu Dehidro Artemisinin Pepraquin (DHP).
Stok obat DHP di Indonesia saat ini dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan baik untuk permintaan rumah sakit pemerintah maupun swasta.
"Kita sudah menghitung kebutuhan obat ini se-Indonesia dan pemerintah menjamin persediaannya sangat cukup," jelas Rita.
Ia mengaku prihatin dengan kondisi di Papua terutama di Timika dimana sekitar 60 persen pasien malaria pergi berobat ke klinik swasta yang tidak menyediakan obat DHP.
Menurut Rita, ke depan klinik dan rumah sakit swasta bisa memperoleh dan menggunakan obat DHP untuk pengobatan pasien malaria mengingat obat tersebut gratis.
Pungutan kepada pasien hanya diberlakukan untuk pemeriksaan laboratorium dan jasa dokter, sementara untuk obat tidak boleh dipungut bayaran karena mendapat subsidi dari pemerintah.
Rita menambahkan, Kemenkes akan mendiskusikan dengan jajaran terkait lainnya tentang usulan Kabupaten Mimika agar obat DHP bisa disediakan di beberapa apotek.
Sejauh ini pendistribusian obat DHP belum dilakukan ke klinik swasta maupun apotek karena dikhawatirkan obat ini juga akan mengalami resistensi terhadap penyakit malaria akibat penggunaan yang tidak dikontrol.
"Kalau tanpa resep dokter akan sangat berbahaya. Kita semua harus menjaga agar tidak terjadi resistensi pada obat ini," tutur Rita.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Erens Meokbun mengatakan stok obat DHP di Mimika saat ini dalam jumlah yang cukup.
Penggunaan obat DHP di Mimika untuk pengobatan penyakit malaria dilakukan sejak tahun 2006 dan hingga saat ini masih terbatas di RS pemerintah, beberapa Puskesmas, Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) milik LPMAK, RS AEA Tembagapura, Public Health and Malaria Control (PHMC) PT Freeport dan sejumlah klinik Malcon.
"Kita komitmen untuk menggunakan obat DHP. Kita mendapat bantuan dari pusat melalui provinsi, juga ada alokasi anggaran dalam APBD Mimika tahun 2011 untuk pengadaan obat tersebut," jelasnya.(Ant/*)
Batuk Berdahak Tidak Efektif Diberi Antibiotik
Minum antibiotik untuk batuk akut yang menghasilkan dahak hijau atau kuning hanya memiliki sedikit manfaat, demikian menurut penelitian terbaru.
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 3.000 orang dewasa dari seluruh Eropa menemukan bahwa pasien yang menghasilkan dahak berwarna lebih mungkin diresepkan antibiotik oleh dokter mereka. Sayangnya minum antibiotik tampaknya tidak mempercepat pemulihan mereka, demikian menurut studi yang dipublikasikan di European Respiratory Journal.
Batuk akut atau infeksi saluran pernapasan bawah merupakan alasan yang sangat umum bagi orang-orang untuk mengunjungi dokter mereka di Inggris.
Batuk berdahak berwarna hijau atau kuning juga merupakan salah satu alasan paling umum untuk dokter meresepkan antibiotik, karena mereka percaya batuk itu mungkin disebabkan oleh bakteri.
Tim dari School of Medicine di Cardiff University mengumpulkan data dari 13 negara Eropa untuk penelitian mereka, meminta pasien dan dokter untuk merekam gejala dan pengobatan untuk kondisi tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa pasien yang menghasilkan dahak hijau atau kuning diberi resep antibiotik "jauh lebih sering" dibandingkan mereka mereka yang berdahak bening atau putih.
Mereka juga menemukan bahwa, setelah tujuh hari, perbedaan terbesar antara mereka yang dan tidak diobati dengan antibiotik kurang dari satu setengah persen poin pada skala keparahan gejala.
Profesor Chris Butler, yang memimpin studi itu, mengatakan, “Temuan kami seirama dengan dengan temuan dari percobaan acak di mana manfaat dari perawatan antibiotik dalam dahak yang menghasilkan warna hampir tidak ada pengaruhnya.”
"Temuan kami menambah bobot pesan bahwa batuk akut pada orang dewasa tidak sembuh lebih cepat dengan pengobatan antibiotik,” imbuh Profesor Butler seperti dilansir BBC. "Bahkan, resep antibiotik dalam situasi ini hanya dihadapkan pada efek samping dari antibiotik, merongrong masa depan, dan menggerakkan pada resistensi antibiotik."
Profesor Butler menambahkan, "Antibiotik bisa menyelamatkan nyawa orang, tetapi kita perlu untuk menjauhkan obat tersebut dari orang-orang yang tidak akan mendapatkan keuntungan dengan mengonsumsinya. Semakin banyak kita menggunakannya, semakin kecil kemungkinan antibiotik itu bekerja."
Prof Iwan Dwiprahasto, Guru Besar Farmakologi Universitas Gadjah Mada menuturkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun individu. Bentuk penyalahgunaannya cukup beragam mulai dari tidak tepat memilih jenis antibiotik hingga cara dan lamanya pemberian.
"Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat serta waktu pemberian yang terlalu singkat atau terlalu lama akan menimbulkan masalah resistensi yang cukup serius," ujar Prof Iwan dalam acara workshop jurnalis kesehatan di Depok, Sabtu (26/3).
Infeksi virus seperti demam, flu, batuk pilek, radang tenggorokan dan beberapa infeksi telinga merupakan infeksi yang tidak boleh diobati dengan antibiotik. Hal ini karena antibiotik membunuh bakteri dan tidak membunuh virus.(go4/*
Sumber : metrotv.news
Sebuah studi yang melibatkan lebih dari 3.000 orang dewasa dari seluruh Eropa menemukan bahwa pasien yang menghasilkan dahak berwarna lebih mungkin diresepkan antibiotik oleh dokter mereka. Sayangnya minum antibiotik tampaknya tidak mempercepat pemulihan mereka, demikian menurut studi yang dipublikasikan di European Respiratory Journal.
Batuk akut atau infeksi saluran pernapasan bawah merupakan alasan yang sangat umum bagi orang-orang untuk mengunjungi dokter mereka di Inggris.
Batuk berdahak berwarna hijau atau kuning juga merupakan salah satu alasan paling umum untuk dokter meresepkan antibiotik, karena mereka percaya batuk itu mungkin disebabkan oleh bakteri.
Tim dari School of Medicine di Cardiff University mengumpulkan data dari 13 negara Eropa untuk penelitian mereka, meminta pasien dan dokter untuk merekam gejala dan pengobatan untuk kondisi tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa pasien yang menghasilkan dahak hijau atau kuning diberi resep antibiotik "jauh lebih sering" dibandingkan mereka mereka yang berdahak bening atau putih.
Mereka juga menemukan bahwa, setelah tujuh hari, perbedaan terbesar antara mereka yang dan tidak diobati dengan antibiotik kurang dari satu setengah persen poin pada skala keparahan gejala.
Profesor Chris Butler, yang memimpin studi itu, mengatakan, “Temuan kami seirama dengan dengan temuan dari percobaan acak di mana manfaat dari perawatan antibiotik dalam dahak yang menghasilkan warna hampir tidak ada pengaruhnya.”
"Temuan kami menambah bobot pesan bahwa batuk akut pada orang dewasa tidak sembuh lebih cepat dengan pengobatan antibiotik,” imbuh Profesor Butler seperti dilansir BBC. "Bahkan, resep antibiotik dalam situasi ini hanya dihadapkan pada efek samping dari antibiotik, merongrong masa depan, dan menggerakkan pada resistensi antibiotik."
Profesor Butler menambahkan, "Antibiotik bisa menyelamatkan nyawa orang, tetapi kita perlu untuk menjauhkan obat tersebut dari orang-orang yang tidak akan mendapatkan keuntungan dengan mengonsumsinya. Semakin banyak kita menggunakannya, semakin kecil kemungkinan antibiotik itu bekerja."
Prof Iwan Dwiprahasto, Guru Besar Farmakologi Universitas Gadjah Mada menuturkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun individu. Bentuk penyalahgunaannya cukup beragam mulai dari tidak tepat memilih jenis antibiotik hingga cara dan lamanya pemberian.
"Kebiasaan memberikan antibiotik dengan dosis yang tidak tepat serta waktu pemberian yang terlalu singkat atau terlalu lama akan menimbulkan masalah resistensi yang cukup serius," ujar Prof Iwan dalam acara workshop jurnalis kesehatan di Depok, Sabtu (26/3).
Infeksi virus seperti demam, flu, batuk pilek, radang tenggorokan dan beberapa infeksi telinga merupakan infeksi yang tidak boleh diobati dengan antibiotik. Hal ini karena antibiotik membunuh bakteri dan tidak membunuh virus.(go4/*
Sumber : metrotv.news
Subscribe to:
Posts (Atom)
